Latest Entries »

Sabtu, 30 April 2011

KPK Jangan Jadi Alat politik

JAKARTA,— Kasus suap di Kemenpora harus diusut tuntas. "Bila memang terdapat indikasi melibatkan dua oknum partai berkuasa, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus tetap berani memproses," kata anggota Komisi III DPR, Aboe Bakar Al Habsyi, Sabtu (30/4/2011) di Jakarta.
Lebih jauh anggota Dewan dari PKS ini menegaskan, KPK jangan menghentikan kasus korupsi ini hanya pada tingkat sekretaris menteri (Sesmenpora Wafid Muharam) ataupun sekelas MRM yang merupakan bawahan bendahara umum Partai Demokrat.
"Jangan sampai KPK terlihat menjadi alat politik oleh partai yang berkuasa, terlihat tumpul bila persoalan hukum menyangkut partai berkuasa," tegas Aboe Bakar.
Selama ini, menurut Aboe, ada kesan KPK akan terkesan tajam dan cepat bereaksi pada persoalan hukum lawan politik. Menurutnya, rakyat masih mengingat banyak politisi yang ditangkap KPK akibat menerima suap pemilihan Gubernur BI.
"Sampai sekarang rakyat masih menunggu KPK menangkap para penyuapnya. Tidak hanya KPK, semua penegak hukum harus memegang adagium pro justicia bukan pro politica," ujar Aboe Bakar.

sumber : KOMPAS.com

Pendiri Al Zaytun Anggota NII


Jakarta-HARIAN BANGSA
Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin tidak mengetahui ada atau tidak kaitannya antara Pondok Pesantren Al Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, dengan Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW9). Tapi, ada sejarah tersendiri antara Al Zaytun dengan NII KW9.
"Kami tidak mengetahui secara jelas bahwa ketua pondok pesantren al Zaytun adalah presiden NII KW9. Tapi pendiri beberapa pendiri pesantren itu adalah anggota NII KW9," kata Din Syamsuddin dalam keterangan pers di PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat 29 April 2011.
Menurut Din, Majelis Ulama Indonesia dan Departemen Agama sudah membentuk tim untuk menyelidiki adanya keterkaitan Al Zaytun dengan NII KW9. Itu dilakukan sejak beberapa tahun lalu.
"Akan tetapi, dalam sistem pengajarannya, tim itu tidak menemukan adanya penyimpangan dengan ajaran Islam," ujar Din.
Sebelumnya, mantan Kepala Badan Intelijen Negara, AM Hendropriyono, membantah Pondok Pesantren Al Zaytun terkait dengan gerakan Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW9).
"Kenyataannya belum ditemukan fakta hubungan Al Zaytun dengan NII," kata Hendropriyono usai melayat mendiang tokoh senior PDI Perjuangan, Theo Syafei, di rumah duka, Bambu Apus, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat 29 April 2011.
Din tidak menyebut nama pimpinan Al Zaytun itu, tapi sudah bukan rahasia lagi pemimpin ponpes yang sering dikunjungi pejabat negara itu adalah Abdussalam alias Panji Gumilang.
Din juga mengakui, data-data yang terkait dengan Al-Zaytun masih sangat sedikit. Dulunya, Kementerian Agama pernah mengadakan penilitian untuk mencari tahu kebenaran tentang hubungan antara NII KW 9 dengan Al Zaytun, namun sayangnya tidak ada informasi yang berarti yang didapatkan.
"Namun para pendiri pesantren ada satu, dua, tiga orang yang meyakini ada hubungan NII KW 9 dengan Al Zaytun," jelasnya.
Din juga menyebut posisi wali ideologis di NII KW 9 sangat penting, bahkan saking pentingnya posisi tersebut diyakini mengalahkan wali biologis (orangtua).
"Berdasarkan pengaduan yang mengalir ke MUI, ada pengaduan dari mantan NII, keluarga korban NII, terutama yang anaknya hilang, bahkan ada yang sudah ditemukan sudah menikah," kata Din.
Sementara itu, pada Kamis kemarin, peneliti Sidney Jones menuturkan, NII memiliki banyak faksi yang tujuannya berbeda.
"Tidak ada satu NII, ada banyak. Kalau di media ada berita anak-anak kena cuci otak, cari uang dan sebagainya, semua peristiwa itu dikaitkan ke KW 9 yang dipimpin Panji Gumilang. Kalau Pepi yang katanya direkrut oleh NII, tidak ada hubungan dengan KW 9," kata Sidney.
Menurut Sidney, NII KW 9 pimpinan Panji Gumilang alias Abu Toto tidak bergerak di bidang terorisme, tetapi melakukan penipuan untuk mengumpulkan dana. Apalagi NII KW 9 juga dianggap sedang mengalami kesulitan finansial.
Sedangkan eks KaBIN Hendropriyono yang memiliki hubungan cukup dekat dengan Panji Gumilang menyebutkan, belum ditemukan fakta hingga saat ini hubungan Al Zaytun dengan NII KW 9. "Al Zaytun itu pesantren dengan nuansa pendidikan, tidak ada politik. Yang datang itu sejak Presiden Soeharto, BJ Habibie dan Presiden Megawati yang diwakilkan oleh saya. Jangan menuduh (Al Zaytun terkait NII KW 9), lebih baik diusut saja," katanya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun AS Panji Gumilang emoh dirinya dikait-kaitkan dengan aktivitas Negara Islam Indonesia. Apalagi dirinya disebut -sebut sebagai NII Komandemen Wilayah - IX.
"NII sudah sudah selesai sejak ditangkapnya Kartosuwiryo pada 1962" kata Panji Gumilang dalam wawancara khususnya kepada Tempo di pondoknya, Jumat 29 April 2011. "NII sudah hilang. Saya  tak pernah masuk atau keluar dari NII."
Panji Gumilang juga mengaku tak tahu ketika ditanya, soal kedekatannya dengan Adah Jaelani, mantan pentolan NII dari Jawa Barat yang dikabarkan tinggal di pondok itu. Bahkan ketika ditanya soal adanya foto dirinya bersama Ada Jaelani, Gumilang mengaku tak tahu. "Saya tidak tahu. Saya tak bisa jelaskan karena  saya memang tidak tahu" ujarnya.
Disebutkan dalam situs NII Crisis Center, Gumilang, pengasuh pondok pesantren  Al Zaytun memiliki kedekatan dengan Adah Jaelani. Menurut  pengakuan mantan Tibmara dan Garda Ma’had, mantan gembong NII Adah Jaelani kini sudah sepuh dan berada dalam pengawasan  Panji Gumilang.
Adah Jaelani  adalah sisa mantan pejabat NII Kartosuwiryo yang diduga masih hidup. Selain Jaelani, pengikut Kartosuwiryo adalah  Masduki, dan Abdul Fathah. Jaelani pernah diadili oleh pengadilan Jakarta karena kasus sebagai imam/ kepala negara islam NII tahun 1983.
Panji beralasan, foto bersama tokoh boleh-boleh saja. Namun itu tak  bisa diartikan bahwa dirinya menganut paham tertentu.  "Foto boleh saja, saya berdampingan dengan presiden ada, dengan militer, atau dengan siapa pun, tapi kan itu tidak menunjukkan saya penganut faham tertentu," kata Panji yang mengaku dekat dengan sejumlah petinggi militer.
Sosok Panji Gumilang sendiri dinilai misterius. Al Chaidar, mantan anggota NII dan penulis buku 'Sepak Terjang KW9 Abu Toto Syekh A.S. Panji Gumilang Menyelewengkan NKA-NII Pasca S.M. Kartosoewirjo' menduga ada oknum intelijen yang melindungi Panji.
Chaidar dalam bukunya  membenarkan ada pendoktrinan tentang NII, seperti mengkafirkan orang di luar Al Zaytun, boleh menipu dan mencuri. Motifnya, tidak pernah benar-benar berniat untuk mendirikan negara Islam. " Tidak, tidak ada," kata Panji.Dia juga membantah bahwa dia punya nama lain, seperti Abu Toto atau Abu Maarif. "Nama saya AS Panji Gumilang,"
Sementara itu, al Chaidar, pengamat teroris yang juga pernah bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII), menyatakan NII menyerakhan sebagian besar dana yang mereka kumpulkan dari anggotanya kepada intelejen.
Menurut dia, orang yang masuk ke NII bukan hanya diminta uangnya namun juga diperas."Bukan hanya ditarik, tetapi juga diperas," kata Al Chaidar, Jumat (29/4).
Dia menerangkan, uang yang dikumpulkan itu dipergunakan untuk bermacam-macam keperluan, seperti untuk membangun pesantren Al Zaytun, hingga diambil oknum intelijen yang berada di balik NII untuk mengelola kegiatannya.
Al Chaidar membenarkan NII mempunyai simpanan emas seberat 20 ton. Emas ini, kata dia, dibawa ke Bank Century (kini Bank Mutiara). Ini karena Abu Toto atau Panji Gumilang pemimpin Al Zaytun mempunyai sebagian saham di Bank Century."Namun saya tidak tahu jumlah persisnya," terang dia.
Dia mengatakan selain mengumpulkan uang, ada program qirot (sumbangan untuk negara) untuk mengumpulkan emas.
Menurut dia, orang yang masuk ke NII bukan hanya diminta uangnya namun juga diperas."Bukan hanya ditarik, tetapi juga diperas," kata Al Chaidar.
Dia mengatakan, orang yang bergabung ke NII akan ditarik dananya secara pelan- pelan seperti misalnya, mulai dari Rp100 ribu, Rp500 ribu, Rp1 juta hingga orang akhirnya meminjam sejumlah uang, menipu orang tua, meminjam kepada teman tanpa bayar dan akhirnya mencuri.
Menurut dia, NII yang sekarang adalah pesantren Al Zaytun yang mengatasnamakan NII. Karena menurut dia, NII yang asli tidak ada gerakan aksi tipu menipu hingga pencucian otak. NII sekarang, menurut dia adalah program pemerintah supaya NII yang asli milik Kartosuwiryo tidak berkembang. "Al- Zaytun itu gerakan aliran sesat yang mengatasnamakan NII," kata Al Chaidar yang menulis buku Sepak Terjang KW9 Abu Toto Syekh A.S. Panji Gumilang Menyelewengkan NKA-NII Pasca S.M.