JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hari ini menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) III di Manado, Sulawesi Utara. Rakornas digelar pada 27 dan 28 Juli 2011.
Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo mengatakan acara bertajuk Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat itu akan dihadiri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sekaligus penanggung jawab dan Fungsionaris DPP serta ketua-ketua DPD seluruh Indonesia.
“Rakornas sifatnya internal, terbatas, tertutup, untuk menyusun rencana strategi partai ke depan dengan mencermati dinamika Internal dan gelagat perkembangan dinamika eksternal partai,” ujar Tjahjo kepada wartawan melalui pesan singkat, Rabu (27/7/2011).
Selain itu, lanjut Tjahjo, Rakornas juga mengagendakan evaluasi hasil rekomendasi Rakernas I dan II serta program yang sudah dilaksanakan.
“Rakornas akan dipimpin oleh ketua umum dan mendapatkan pengarahan pangsung dari Ibu Ketua. Rakornas juga akan menyaring masukan-masukan, saran-saran, dari ketua-ketua DPD se-Indonesia sesuai dengan perkembangan, gelagat, dinamika politik, sosial, Hankam di daerah masing-masing,” beber Tjahjo.
Para peserta juga melakukan materi pendalaman antara lain konsolidasi demokrasi Indonesia melalui perubahan paket UU politik dan pemilu, posisi opini partai politik di mata rakyat, serta konstelasi geo politik global terhadap pelaksanaan kebijakan politik luar negeri dan pengaruhnya terhadap politik dalam negeri. Terakhir mendalami gelagat dan perkembangan dinamika politik nasional.
Terkait pemilihan lokasi di Manado, Tjahjo menjelaskan, pemilihan lokasi karena faktor pemerataan wilayah. PDIP sebelumnya menggelar Rakornas I di Nusa Dua, Bali serta Rakornas II di Batam.
sumber : okezone.com
Latest Entries »
Selasa, 26 Juli 2011
"KPK Pecah Kongsi? "
JAKARTA – Kicauan Muhammad Nazaruddin tak hanya membuat petinggi Partai Demokrat kalang kabut. Kini, sengatan kalimat buronan interpol itu juga mulai menyetrum sejumlah pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi yang mengakui pernah bertemu dengannya.
Di antaranya Direktur Penyidikan KPK Ade Rahardja, Kepala Biro Humas Johan Budi SP. Adapun Chandra M Hamzah membantah pernah bertandang ke rumah Nazaruddin untuk membicarakan kasus yang tengah diselidiki KPK.
Sebagai respon atas tudingan itu, KPK akhirnya membentuk Komite Etik untuk memeriksa Chandra M Hamzah. Komite ini beranggotakan Ketua KPK Busyro Muqoddas, Haryono Umar, Bibit S Rianto, Abdullah Hehamahua, Said Zainal Abidin, Marjono Reksodiputro, dan Syahruddin Rasul. Sementara pegawai di luar pimpinan diperiksa oleh pengawasan internal KPK.
Di tengah persoalan ini, muncul isu lain bahwa KPK pecah kongsi dan tidak solid. Hal tersebut berawal dari pengunduran diri Johan Budi dan permintaan Wakil Ketua KPK M Jasin agar Komite Etik juga memeriksa Haryono Umar dan Busyro karena nama mereka termasuk disebut Nazaruddin. Benarkah KPK pecah?
“Hahaha, kata siapa? tanyakan langsung kepada orang yang bicara seperti itu? Kaya piring aja pecah,” kata Jasin sambil tertawa saat berbincang dengan okezone, Rabu (27/7/2011)
Jasin pun menegaskan lembaganya sampai saat ini masih tetap sollid. Perbedaan pendapat antara pimpinan merupakan hal yang biasa terjadi.
“Enggak kok, sampai saat ini kita masih solid saja, kalau memang beda pendapat itu hal yang wajar karena harus membuahkan kebijakan yang bagus,” tandasnya
Seperti diberitakan sebelumnya, M. Jasin mengatakan ada beberapa rekannya yang pernah bertemu dengan M. Nazaruddin seperti Chandra Hamzah, Haryono Umar, Johan Budi, Bambang Proptono Sunu (sekjen KPK) dan Ade Raharja.
Jasin juga mengaku dirinya sangat siap diperiksa oleh Komite Etik karena memang dia tidak mengenal Anas Urbaningrum dan M. Nazaruddin.
Secara terpisah, anggota Komisi III bidang Hukum DPR Bambang Soesatyo mengapresiasi pembentukan Komite Etik KPK.
"Responsif dan harus didukung," ujarnya.
sumber : okezone.com
Di antaranya Direktur Penyidikan KPK Ade Rahardja, Kepala Biro Humas Johan Budi SP. Adapun Chandra M Hamzah membantah pernah bertandang ke rumah Nazaruddin untuk membicarakan kasus yang tengah diselidiki KPK.
Sebagai respon atas tudingan itu, KPK akhirnya membentuk Komite Etik untuk memeriksa Chandra M Hamzah. Komite ini beranggotakan Ketua KPK Busyro Muqoddas, Haryono Umar, Bibit S Rianto, Abdullah Hehamahua, Said Zainal Abidin, Marjono Reksodiputro, dan Syahruddin Rasul. Sementara pegawai di luar pimpinan diperiksa oleh pengawasan internal KPK.
Di tengah persoalan ini, muncul isu lain bahwa KPK pecah kongsi dan tidak solid. Hal tersebut berawal dari pengunduran diri Johan Budi dan permintaan Wakil Ketua KPK M Jasin agar Komite Etik juga memeriksa Haryono Umar dan Busyro karena nama mereka termasuk disebut Nazaruddin. Benarkah KPK pecah?
“Hahaha, kata siapa? tanyakan langsung kepada orang yang bicara seperti itu? Kaya piring aja pecah,” kata Jasin sambil tertawa saat berbincang dengan okezone, Rabu (27/7/2011)
Jasin pun menegaskan lembaganya sampai saat ini masih tetap sollid. Perbedaan pendapat antara pimpinan merupakan hal yang biasa terjadi.
“Enggak kok, sampai saat ini kita masih solid saja, kalau memang beda pendapat itu hal yang wajar karena harus membuahkan kebijakan yang bagus,” tandasnya
Seperti diberitakan sebelumnya, M. Jasin mengatakan ada beberapa rekannya yang pernah bertemu dengan M. Nazaruddin seperti Chandra Hamzah, Haryono Umar, Johan Budi, Bambang Proptono Sunu (sekjen KPK) dan Ade Raharja.
Jasin juga mengaku dirinya sangat siap diperiksa oleh Komite Etik karena memang dia tidak mengenal Anas Urbaningrum dan M. Nazaruddin.
Secara terpisah, anggota Komisi III bidang Hukum DPR Bambang Soesatyo mengapresiasi pembentukan Komite Etik KPK.
"Responsif dan harus didukung," ujarnya.
sumber : okezone.com
Pelecehan Seksual Di Bus TransJakarta Kembali Terjadi
Pelecehan seksual kembali terjadi di dalam bus Transjakarta, kali ini penumpang perempuan berinisial S di duga dilecehkan oleh seorang pria yang diketahui berinisial MH saat menaiki bus transjakarta jurusan Kampung Melayu-Ancol, Selasa 26 Juli 2011 malam.
Dalam keadaan penuh sesak itu, S merasa ada sesuatu yang menganggunya. Pria berinisial MH yang diketahui berusia 44 tahun terlihat terus mengeser badannya mendekati S. “Tiba-tiba tangan dia pegang tangan saya. Saya langsung tarik tangan saya,” kata S
Tidak hanya sampai disitu, MH kembali melanjutkan aksinya yang membuat S semakin marah. “Dia colek tangan saya dan nyuruh saya balik badan sambil liat dada saya,” ujarnya geram.
Atas tindakan ini S yang merasa dilecehkan langsung melaporkan kepada petugas keamanan TransJ. Petugas pun langsung mengamankan MH dan membawanya ke Mapolsek Jatinegara.
Saat ini kasus S sudah dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak di Mapolres Jakarta Timur.
sumber : harian berita.com
Kronologis Raul Lemos Cekik Reporter Global TV
Berita Terbaru, Raul Lemos, suami dari bintang diva Indonesia Krisdayanti (KD), diduga telah menyerang dan mencekik seorang reporter dan kameraman Global TV saat hendak melakukan wawancara yang ditemui di Bandara Soekarno-Hatta. Berikut ini adalah kronologis peristiwanya. Raul dan KD datang dari Dili dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (25/7/2011), sekira pukul 16.30 WIB. Pasangan yang tengah menanti kelahiran anak pertama itu baru keluar dari Terminal 2F sekira pukul 17.00 WIB. Kemudian, reporter Global TV, Kiki, dan kameramen, Adit, hendak mewawancara KD seputar kehamilannya.

Namun, permintaan wawancara itu ditolak oleh Raul yang memang diketahui tidak suka publikasi. Lantaran menolak, Kiki mengurungkan niat untuk wawancara KD. Namun, Adit tetap merekam gambar pasutri yang baru menikah pada 20 Maret 2011 itu. “Kita sudah minta izin untuk wawancara kehamilan KD, tapi dia menolak. Akhirnya, kita cuma ambil gambar saja,” aku Adit.
Tampaknya, Raul keberatan melihat kamera masih merekam dirinya dan KD. Kemudian, tanpa aba-aba lebih dulu Raul langsung menyerang Adit. Raul sekonyong-konyong datang dari arah belakang lalu menabrak Adit dengan sengaja. “Raul menabrak saya dari belakang dengan sengaja. Saya jatuh, lalu bangun. Dia coba mengejar saya untuk merebut kamera,” beber Adit.
Lantaran Adit berhasil menjauh dari Raul sambil membawa kamera, Raul mengarahkan serangan kepada Kiki. “Raul menyerang Kiki. Dia mencekik. Lalu mencoba menampar, tapi keburu ditangkis Kiki pakai tangan kiri,” ungkap Adit. Sebelum menabrak Adit dengan tubuh besarnya, Raul sempat berkata-kata kepada Kiki dengan emosi. “Dia ngomong ke Kiki, ‘Bilangin ke teman lo, jangan ambil gambar’,” ucap Adit.
sumber : harian berita.com
Namun, permintaan wawancara itu ditolak oleh Raul yang memang diketahui tidak suka publikasi. Lantaran menolak, Kiki mengurungkan niat untuk wawancara KD. Namun, Adit tetap merekam gambar pasutri yang baru menikah pada 20 Maret 2011 itu. “Kita sudah minta izin untuk wawancara kehamilan KD, tapi dia menolak. Akhirnya, kita cuma ambil gambar saja,” aku Adit.
Tampaknya, Raul keberatan melihat kamera masih merekam dirinya dan KD. Kemudian, tanpa aba-aba lebih dulu Raul langsung menyerang Adit. Raul sekonyong-konyong datang dari arah belakang lalu menabrak Adit dengan sengaja. “Raul menabrak saya dari belakang dengan sengaja. Saya jatuh, lalu bangun. Dia coba mengejar saya untuk merebut kamera,” beber Adit.
Lantaran Adit berhasil menjauh dari Raul sambil membawa kamera, Raul mengarahkan serangan kepada Kiki. “Raul menyerang Kiki. Dia mencekik. Lalu mencoba menampar, tapi keburu ditangkis Kiki pakai tangan kiri,” ungkap Adit. Sebelum menabrak Adit dengan tubuh besarnya, Raul sempat berkata-kata kepada Kiki dengan emosi. “Dia ngomong ke Kiki, ‘Bilangin ke teman lo, jangan ambil gambar’,” ucap Adit.
sumber : harian berita.com
Langganan:
Postingan (Atom)
